karyajurnal.com

media online

Berperan Strategis dalam Pilar Ekonomi, Kemendag Dorong Kolaborasi untuk Capai Prioritas Ekonomi

Pilar Ekonomi

Berperan Strategis dalam Pilar Ekonomi, Kemendag Dorong Kolaborasi untuk Capai Prioritas Ekonomi

Jakarta – Keketuaan Indonesia di ASEAN 2023 masih berjalan hingga akhir tahun dan terdapat beberapa agenda yang harus dituntaskan. Dalam hal ini, peran Kementerian Perdagangan sangat strategis sebagai focal point di pilar ekonomi.

Demikian ditegaskan Kepala Badan Kebijakan Perdagangan (BK Perdag) Kasan saat membacakan sambutan Menteri Perdagangan dalam High Level Policy Dialogue (HLPD) di The St Regis Hotel Jakarta, Jumat (4/8). Dialog mengusung tema “Indonesia’s ASEAN Chairmanship 2023: Promoting ASEAN Relevance in Global Market”.

HLPD adalah wujud kolaborasi BK Perdag Kementerian Perdagangan dan mitra kerja sama, yaitu The Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA), International Trade Analysis and Policy Studies Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor (ITAPS FEM-IPB), Asian Development Bank (ADB) Institute, dan Smeru Research Institute. HLPD menjadi salah satu forum dialog untuk mendukung agenda prioritas dalam keketuaan Indonesia di ASEAN 2023.

“Peran Kementerian Perdagangan sangat strategis sebagai focal point di pilar ekonomi. Mari kita bekerja sama dan berkolaborasi untuk mendukung pencapaian prioritas ekonomi Indonesia sehingga keketuaan Indonesia dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan perdagangan Indonesia dan ASEAN,” jelas Kasan.

Nilai Produk Domestik Bruto ASEAN

Menurut Kasan, ASEAN sebagai organisasi kawasan memiliki peran ekonomi yang strategis bagi dunia. Pada 2022, pertumbuhan ekonomi ASEAN mencapai 5,6 persen. Nilai produk domestik bruto ASEAN mencapai USD 3,62 triliun. Kontribusi ekspor ASEAN ke dunia mencapai 8,39 persen dari total ekspor dunia dengan nilai USD 2,05 triliun. “Dengan perannya yang strategis, arti keketuaan Indonesia di ASEAN 2023 tentu menjadi sangat penting,” sebut Kasan.

Pada Keketuaan Indonesia 2023, terdapat 16 Prioritas Capaian Ekonomi atau Priority Economic Deliverables (PEDs) di bawah Pilar Komunitas Ekonomi ASEAN, yang terdiri dari tiga strategic thrust, yaitu pemulihan dan pembangunan kembali, ekonomi digital, dan keberlanjutan. Adapun tujuh dari 16 prioritas tersebut merupakan prioritas capaian ekonomi Indonesia di bawah tanggung jawab Menteri Ekonomi ASEAN yang telah disahkan pada Pertemuan Menteri Ekonomi pada Maret 2023 lalu.

Sementara dalam sambutannya Presiden ERIA Tetsuya Watanabe menyampaikan, ASEAN telah melakukan transformasi digital yang signifikan. Untuk merealisasikan potensi teknologi digital yang dimilikinya, ASEAN perlu mengutamakan investasi strategis, menetapkan kerangka dan regulasi yang kuat, serta mendorong upaya kolaboratif di antara negara-negara anggota ASEAN.

Pentingnya Teknologi Digital

Sejalan dengan hal tersebut, Ekonom ERIA Lili Yan Ing menekankan pentingnya teknologi digital dan menyoroti potensinya untuk membuat perubahan yang signifikan dalam beberapa hal, tidak hanya dalam melakukan pekerjaan profesional tetapi juga kehidupan sehari-hari, termasuk perdagangan.

“Dengan menggarisbawahi berbagai dampak positif dari robot dan kecerdasan buatan (AI) pada berbagai bidang, kita perlu memastikan orientasi perkembangan digital tetap berorientasi pada peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan manusia,” jelas Lili.

Berikutnya, Profesor Ekonomi Internasional Universitas Princeton Amerika Serikat Gene Grossman menyampaikan semakin pentingnya peranan perdagangan jasa di masa mendatang. Diperlukan kebijakan untuk mendorong perluasan perdagangan jasa, termasuk perdagangan jasa digital. Perlu investasi dalam infrastruktur digital untuk menyediakan konektivitas yang terjangkau, penyediaan pasar telekomunikasi yang terbuka dan transparan, perlindungan data dan privasi, serta pentingnya pengembangan sumber daya manusia di era digital.

Menteri Perdagangan periode 2016–2019 Enggartiasto Lukita yang hadir juga mengemukakan, Indonesia harus memberikan jejak terbaik dalam keketuaan ASEAN. ASEAN harus melakukan penyesuaian dan penyelarasan kebijakan serta peraturan nasionalnya dengan kebijakan yang berlaku umum di Kawasan.

“Sangat penting untuk menjaga soliditas dan daya tanggap ASEAN dalam menghadapi tantangan perubahan tatanan ekonomi global. Teknologi digital dapat sangat membantu dalam menjawab tantangan,” jelas Enggar.

Secara keseluruhan, HLPD menyuguhkan tiga sesi dialog yang digelar secara paralel. Sesi pertama mengulas pemulihan dan pembangunan kembali; sesi kedua transformasi digital; dan sesi ketiga transisi energi. Hadir sebagai pembicara pada sesi paralel antara lain Brian A. Wong, Jean Baldwin Grossman, Gog Soon Joo, Norasikin Ahmad Ludin, dan Le Thai Ha. Melalui HLPD, para peserta diharapkan mendapat pemahaman baru tentang perubahan mendalam yang akan datang dan pentingnya merangkul kemajuan teknologi untuk mendorong pertumbuhan dan kemajuan di wilayah Indonesia dan ASEAN.

Pembukaan HLPD “Indonesia’s ASEAN Chairmanship 2023: Promoting ASEAN Relevance in Global Market” dihadiri sekitar 300 orang peserta yang berasal dari kementerian/lembaga terkait, lembaga wadah pemikir (think tank), akademisi, pelaku usaha, dan media massa. Pembukaan dapat disaksikan ulang di tautan https://www.youtube.com/live/XMoeJ05wtlQ?feature=share. (BKT)

 

Baca juga: “Kedepankan Kehatian-hatian, Bappebti Konsisten dengan Rencana Kebijakan Ekspor CPO Melalui Bursa Berjangka”